LIPUTAN UTAMA | Strategi Keberlanjutan Lapangan Migas: Upaya Inovatif Hadapi Tantangan Bisnis yang Dinamis
December 18, 2024
LIPUTAN UTAMA | Strategi Keberlanjutan Lapangan Migas: Upaya Inovatif Hadapi Tantangan Bisnis yang Dinamis
December 18, 2024
Mengelola lapangan mature di industri hulu migas merupakan tantangan besar, terutama dalam menjaga keberlanjutan produksi dan keekonomian proyek, sehingga dapat menghasilkan nilai yang signifikan bagi pemegang saham, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)-Regional 3 Kalimantan, melalui langkah-langkah strategis dan inovatif, berupaya untuk mempertahankan operasi yang efisien dan berkelanjutan. Berikut adalah strategi utama yang dijalankan untuk menjawab tantangan tersebut.
Strategi 1: Eksplorasi intensif untuk menambah sumber daya
Salah satu kunci keberlanjutan bisnis adalah eksplorasi yang intensif. Melalui pengeboran eksplorasi dan studi, PHI tidak hanya berupaya menambah cadangan migas tetapi juga mempercepat penetapan rencana pengembangan (Plan of Development (POD)). Hingga Agustus 2024, PHI-Regional 3 Kalimantan telah menyelesaikan satu dari tiga sumur eksplorasi yang ditargetkan tahun ini. Langkah ini memperkuat posisi perusahaan dalam memastikan ketersediaan sumber daya migas di masa depan, sejalan dengan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
Strategi 2: Teknologi untuk meningkatkan recovery produksi
Penerapan teknologi modern menjadi salah satu kunci untuk mengatasi laju penurunan alamiah produksi lapangan mature. PHI-Regional 3 Kalimantan memanfaatkan beberapa inovasi teknologi utama, antara lain:
1. Pressure maintenance dan waterflood: mempertahankan tekanan reservoir untuk mendukung kelangsungan produksi.
2.Compressor low pressure: mengoptimalkan produksi gas dari lapangan-lapangan dengan tekanan rendah.
3.Sand Consolidation (SCON): menstabilkan formasi reservoir untuk menambah produksi.
Menurut Senior Manager Strategic Planning Regional 3, Irwan Yulianto, komitmen tinggi perusahaan terhadap strategi ini terlihat dari intensitas kegiatan pengeboran dan well service. "Tahun 2024 ini, PHI-Regional 3 Kalimantan menyelesaikan 182 sumur pengeboran, melampaui target awal sebanyak 178 sumur, dan well service mencapai 9.571 aktivitas atau 121% dari rencana," jelasnya.
Strategi 3: Efisiensi operasional melalui sinergi dan inovasi
Efisiensi adalah pilar utama dalam memastikan operasi migas yang berkelanjutan. Untuk itu, Perusahaan menerapkan program Optimization Upstream (Optimus) yang mendorong sinergi antarlapangan dengan pendekatan borderless operation. Pendekatan ini memungkinkan kolaborasi tanpa batas antarwilayah kerja untuk memaksimalkan sumber daya dan mengurangi biaya operasional.
1.Sinergi pengeboran: Kolaborasi antarwilayah kerja, seperti yang dilakukan di Zona 9 antara WK PEP dan PHSS, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya pengeboran.
2.Berbagi fasilitas: Pemanfaatan bersama fasilitas seperti tug boat, chopper, dan jetty untuk mengoptimalkan biaya operasional dan memperkuat kolaborasi antarentitas.
3.Pengelolaan teknologi informasi: Sentralisasi pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi di Regional 3 yang
mempermudah koordinasi, meningkatkan produktivitas tim, dan mempercepat pengambilan keputusan.
4.DIGIPLAN: Pengembangan alat digital untuk pengelolaan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) yang lebih terintegrasi dan transparan.
5.Pemanfaatan Material Eks Terminasi (MAXTER): Upaya memanfaatkan material yang sudah ada untuk
mengurangi pengeluaran tanpa mengorbankan kualitas operasi.
6.Konversi bahan bakar diesel ke gas: Langkah strategis untuk mengurangi biaya operasional
sekaligus mendukung keberlanjutan dengan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Inovasi-inovasi ini telah membantu PHI-Regional 3 Kalimantan mencapai efisiensi tinggi sambil menjaga produktivitas. Baik dalam Anggaran Biaya Investasi (ABI) maupun Anggaran Biaya Operasi (ABO), Perusahaan memastikan bahwa setiap pengeluaran memberikan nilai tambah yang signifikan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Selain itu, Perusahaan juga menanamkan budaya efisiensi sebagai bagian dari keseharian kerja. Program Optimus berkembang menjadi elemen budaya organisasi yang melibatkan partisipasi aktif seluruh fungsi. Inisiatif ini tidak hanya mencakup inovasi teknis tetapi juga mendorong kolaborasi lintas fungsi, seperti yang terlihat dalam pelaksanaan pengeboran dan well intervention, di mana fungsi teknis dan dukungan bisnis bekerja sama dengan erat.
Manager Performance Regional 3, Mohamad Syah Afgani, menekankan pentingnya membangun kesadaran terhadap efisiensi di setiap level organisasi. “Efisiensi dan inovasi harus ditanamkan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya menjadi kewajiban Perusahaan. Semua komponen di PHI-Regional 3 Kalimantan, termasuk Perwira, perlu berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan Perusahaan,” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, PHI-Regional 3 Kalimantan tidak hanya berhasil mengoptimalkan operasi migas tetapi juga memastikan keberlanjutan bisnis di tengah tantangan industri yang terus berkembang. Sinergi dan inovasi yang diterapkan menjadi bukti nyata bahwa efisiensi bukan hanya tentang pengurangan biaya, melainkan langkah strategis untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing di pasar global.
Strategi 4: Insentif untuk meningkatkan keekonomian
Perusahaan aktif bernegosiasi dengan pemerintah untuk mendapatkan insentif yang bertujuan mendorong investasi baru dan meningkatkan keekonomian aset. Insentif ini mendukung pengembangan lapangan secara optimal sekaligus mempertahankan tingkat recovery dan produksi migas di tengah persaingan global.
Kompleksitas pengelolaan lapangan mature menuntut pendekatan yang tidak hanya fokus pada teknis dan operasional, tetapi juga strategi yang lebih holistik dan proaktif. Untuk mencapai keberlanjutan bisnis yang seimbang antara efisiensi, inovasi, dan daya saing, Perusahaan juga terus menggali potensi wilayah kerja melalui program-program terobosan.
Sebagai bagian dari komitmen ini, PHI-Regional 3 Kalimantan mengembangkan inisiatif-inisiatif inovatif yang tidak hanya menjawab tantangan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang strategis untuk masa depan. Dua langkah signifikan yang diambil adalah peluncuran Program Nawasena dan pembentukan Gugus Tugas Arunika, yang dirancang untuk mengatasi hambatan dan memaksimalkan kinerja wilayah kerja.
Dengan pendekatan menyeluruh ini, PHI-Regional 3 Kalimantan memastikan setiap aspek operasional mendukung tujuan keberlanjutan yang lebih luas, baik dari sisi ekonomi maupun kontribusi terhadap ketahanan energi nasional. Berikut adalah peran kunci dari kedua inisiatif tersebut.
Inovasi pendukung: Program Nawasena dan Gugus Tugas Arunika
Untuk memastikan keberlanjutan bisnis di tengah tantangan industri hulu migas, pada tahun ini Subholding Upstream meluncurkan Program Nawasena. Program ini dirancang untuk mengkaji dan mengevaluasi wilayah kerja yang tergolong memiliki kontribusi rendah dan risiko moderat hingga tinggi, berdasarkan pemetaan portofolio Subholding Upstream. Di PHI-Regional 3 Kalimantan, tujuh wilayah kerja teridentifikasi masuk ke dalam klaster ini sebagai prioritas untuk optimalisasi.
Program Nawasena mulai berjalan sejak Mei 2024 dan melibatkan berbagai fungsi di Perusahaan untuk mengevaluasi wilayah kerja tersebut secara menyeluruh. Lebih dari sekadar mencari efisiensi, program ini mencerminkan semangat Perusahaan untuk terus beradaptasi dengan tantangan baru sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis. Fokusnya tidak hanya terbatas pada pengurangan biaya, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui strategi yang inovatif.
Semangat yang diusung Program Nawasena sejalan dengan inisiatif lain yang telah diterapkan sebelumnya, seperti Program Optimus dan Komite Strategi (KOMSTRAT), yang juga bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan keekonomian proyek. Sebagai contoh, pada tahun 2022 PHI-Regional 3 Kalimantan telah melakukan evaluasi mendalam untuk wilayah kerja tertentu, menghasilkan aksi korporasi yang meningkatkan kinerja finansial dan operasional aset-aset perusahaan.
Selaras dengan pendekatan Program Nawasena, PHI-Regional 3 Kalimantan melanjutkan langkah strategisnya dengan membentuk Gugus Tugas Arunika pada pertengahan 2024. Gugus tugas ini dirancang untuk mengidentifikasi peluang peningkatan kinerja finansial dan operasional wilayah kerja di luar cakupan Nawasena, termasuk PHM, PHSS, dan PEP Tanjung. Dengan pendekatan yang bersifat holistik, Gugus Tugas Arunika berfokus pada beberapa area utama, seperti:
• Evaluasi biaya produksi untuk memastikan efisiensi pada setiap proses.
• Optimasi kontrak dan audit operasional untuk meningkatkan transparansi dan pengelolaan aset.
• Pengelolaan SDM yang lebih efektif untuk mendukung strategi perusahaan.
• Perencanaan bisnis jangka panjang yang berorientasi pada keberlanjutan.
Hasil dari kajian Gugus Tugas Arunika diharapkan mampu melahirkan rekomendasi operasional yang lebih efisien, aman, dan andal. Tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kinerja wilayah kerja di Regional 3 Kalimantan, langkah ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan Perusahaan secara keseluruhan dan memperkuat daya saing di tingkat global.
Pendekatan strategis ini menunjukkan komitmen Perusahaan untuk menjadikan keberlanjutan sebagai inti dari setiap inisiatif Perusahaan, memastikan bahwa operasi migas tidak hanya berkontribusi bagi kebutuhan energi saat ini tetapi juga bagi masa depan yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Menuju ketahanan energi nasional dan masa depan berkelanjutan
Keberhasilan dalam mengelola lapangan mature di industri hulu migas memerlukan kombinasi strategi yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberlanjutan. PHI-Regional 3 Kalimantan telah membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, tantangan kompleks seperti menjaga keberlanjutan produksi dan keekonomian proyek dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan nilai tambah signifikan.
Manager Planning & Strategy Regional 3, Yoga Wicaksono, mengungkapkan bahwa melalui eksplorasi intensif, penerapan teknologi mutakhir, efisiensi operasional, serta kolaborasi lintas fungsi, PHI-Regional 3 Kalimantan tidak hanya berhasil mempertahankan performa produksi lapangan mature, tetapi juga memperkuat daya saing perusahaan di kancah global. “Inisiatif seperti program Optimus dan borderless operation telah menciptakan sinergi yang mengoptimalkan sumber daya sekaligus meningkatkan efisiensi dengan dampak nyata pada biaya operasional. Di sisi lain, langkah-langkah strategis seperti Program Nawasena dan Gugus Tugas Arunika menjadi bukti komitmen PHI-Regional 3 Kalimantan dalam mengelola risiko dan memperkuat keberlanjutan bisnis jangka panjang,” imbuhnya.
Namun, keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang efisiensi teknis atau keekonomian. Keberhasilan PHI-Regional 3 Kalimantan juga ditentukan oleh pengelolaan sumber daya manusia yang berfokus pada kolaborasi dan budaya kerja yang inklusif. Dengan memberdayakan para Perwira untuk berinovasi, perusahaan menciptakan lingkungan yang mendorong lahirnya solusi kreatif yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Ke depan, PHI-Regional 3 Kalimantan akan terus berperan aktif dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui pengelolaan aset migas yang efisien dan berkelanjutan. Dengan semangat inovasi, sinergi, dan kolaborasi, Perusahaan tidak hanya menargetkan keberhasilan jangka pendek, tetapi juga masa depan industri migas yang tangguh dan adaptif di tengah dinamika global.
Dengan strategi matang dan eksekusi konsisten, PHI-Regional 3 Kalimantan berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memenuhi kebutuhan energi nasional sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan pemangku kepentingan. Ini bukan sekadar tentang hari ini, tetapi tentang mewariskan sumber daya migas bernilai bagi generasi mendatang, memastikan apa yang kita bangun sekarang menjadi fondasi kokoh untuk masa depan lebih baik.