JELAJAH | Tingkilan : Harmoni Bahari yang Dijaga Bersama

  February 25, 2026
JELAJAH | Tingkilan : Harmoni Bahari yang Dijaga Bersama

  February 25, 2026

Tingkilan merupakan musik tradisi masyarakat Kutai Lama yang terus dijaga keberlangsungannya. Melalui dukungan pelestarian budaya, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) ikut memastikan seni ini tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi muda. Lewat Rubrik Jelajah ini, Perwira diajak melihat lebih dekat bagaimana tradisi tersebut berkembang, dipraktikkan, dan dapat dinikmati langsung saat berkunjung ke pesisir Mahakam.


Di tepian Sungai Mahakam, suara  petikan gambus masih  menyatu dengan keseharian masyarakat Kutai Lama. Nada-nada itu mengalun lembut, seakan menarik pendengarnya kembali ke masa bahari, masa ketika kehidupan pesisir berjalan sederhana namun penuh makna. Musik ini dikenal sebagai Tingkilan, seni tradisi yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Kutai dan kini kembali aktif diwariskan.

Tingkilan berakar dari kata tingkil, yang berarti memetik, merujuk pada teknik memainkan alat musik gambus yang menjadi instrumen utama. Gambus Kutai merupakan adaptasi dari instrumen Timur Tengah, namun bentuk dan karakter suaranya berkembang mengikuti konteks lokal. Badannya dipahat dari kayu Nangka atau Meranti, resonansinya menggunakan kulit biawak atau kambing, dan senar nilon dipilih untuk menghasilkan suara lembut namun tetap kuat. Perpaduan ini menjadikan Tingkilan memiliki karakter harmoni yang khas.

Pada awalnya, Tingkilan dimainkan oleh tiga orang: pemetik gambus, pemain gendang, dan penyanyi. Seiring waktu, format ini berkembang menjadi ansambel yang lebih kaya dengan tambahan cak, cuk, selo petik, gendang babun, hingga gitar. Meski sering dipersandingkan dengan keroncong karena kemiripan penggunaan dawai, Tingkilan tetap memiliki identitas musikal yang sangat dekat dengan budaya pesisir Mahakam.

Lebih dari sebuah hiburan, Tingkilan adalah cermin nilai dan cerita masyarakat Kutai. Syair-syairnya berisi pantun, nasihat hidup, hingga kisah sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara. Salah satu lagu yang paling dikenal adalah Pahampangan, karya almarhum Kai Anwar, yang melukiskan ketenangan suasana pesisir sekaligus kerinduan seseorang yang dipendam sambil menahan air mata. Kesederhanaan dan kejujuran emosinya membuat Tingkilan senantiasa terasa dekat dengan hati masyarakat.

Setiap wilayah Kutai menghadirkan warna dan gaya Tingkilan yang berbeda. Tenggarong dikenal sebagai pusat inovasi, tempat sanggar-sanggar seni menghadirkan aransemen baru yang memadukan tradisi dan sentuhan modern. Kelompok seperti Olah Gubang, Petala Borneo, hingga Cahaya Mahakam turut berperan memperluas jangkauan Tingkilan. Bahkan lagu Warisan Etam sempat menarik perhatian publik setelah berkolaborasi dengan Sharla salah satu kontestan Indonesian Idol.

Namun seperti banyak tradisi lainnya, Tingkilan menghadapi tantangan besar dalam regenerasi. Di tengah cepatnya perubahan selera musik, minat generasi muda terhadap seni tradisi tidak selalu stabil. Kondisi ini diperkuat oleh minimnya kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah yang secara khusus mengajarkan musik tradisi.

Hal tersebut disampaikan oleh Zikri Umulda, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara, “Kurikulum muatan lokal mengenai musik tradisi saat ini belum ada. Untuk Tingkilan, pembelajarannya masih sebatas kegiatan ekstrakurikuler. Kita perlu kolaborasi banyak pihak untuk meningkatkan minat dan pengetahuan anak-anak sejak dini,” harapnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa keberlangsungan Tingkilan membutuhkan dukungan kolektif, baik dari pelestari budaya, pemerintah, sekolah, maupun perusahaan yang berada dekat dengan komunitas.

Di titik inilah dukungan PHM melalui Program Pelestarian Budaya menjadi relevan. Sejak 2023, PHM tidak hanya mendukung pengadaan alat musik seperti gambus, cak-cuk, gendang babun, hingga perangkat audio, serta membantu perbaikan pendopo latihan, tetapi juga memperkuat pelatihan bagi pemuda lokal agar generasi baru memiliki ruang belajar yang tepat.

Kini, sekitar 30 pemuda Kutai Lama secara rutin belajar Tingkilan di sanggar. Suasananya hidup dan penuh semangat. Salah satu penggerak utamanya adalah Kai Ramli, maestro gambus senior yang telah memainkan tingkilan sejak remaja. Dengan suara bergetar, ia bercerita tentang harapan terbesarnya. “Saya sangat berbahagia kalau ada anak-anak muda yang mau belajar. Karena teman-teman saya sudah meninggal semua,” ucapnya lirih. Testimoni ini bukan hanya kisah personal, tetapi simbol pentingnya regenerasi agar tradisi tetap hidup.

Bagi Perwira, mengenal Tingkilan memberikan gambaran lebih utuh mengenai kehidupan masyarakat di sekitar wilayah kerja PHM.

Tingkilan lahir dari kultur pesisir Mahakam, wilayah yang telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan selama puluhan tahun. Menyaksikan latihan atau pertunjukannya secara langsung memberikan perspektif baru tentang bagaimana budaya lokal tetap tumbuh di tengah dinamika zaman.

Kutai Lama juga merupakan destinasi yang mudah diakses. Desa ini berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Samarinda dan dapat ditempuh dalam 45 hingga 60 menit melalui perjalanan darat. Jika ingin merasakan perjalanan yang lebih historis, Perwira dapat memilih rute sungai menggunakan kapal wisata Pesut Etam atau Pesut Bentong dari Pelabuhan Teluk Lerong di pusat kota. Sepanjang perjalanan, pemandangan pesisir Mahakam menawarkan pengalaman visual yang tenang sekaligus menghadirkan konteks budaya yang melahirkan Tingkilan.

Setibanya di Kutai Lama, Perwira dapat menikmati pertunjukan Tingkilan di Pendopo Seni dekat kompleks makam raja, berkunjung ke kampung tua, menyaksikan tari Jepen, atau sekadar merasakan suasana pesisir yang damai. Kunjungan ini bukan hanya rekreasi budaya, tetapi kesempatan untuk melihat bagaimana masyarakat dan perusahaan berjalan bersama dalam menjaga tradisi.

Pada akhirnya, perjalanan Tingkilan mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang operasi energi. Keberlanjutan juga tumbuh dari hubungan harmonis dengan masyarakat, penghargaan terhadap budaya lokal, dan komitmen untuk merawat nilai yang menjadi bagian dari ruang hidup bersama. Selama petikan gambus terus dimainkan dan generasi muda mau belajar, Tingkilan akan tetap menjadi kebanggaan masyarakat Kutai, dan bagian dari perjalanan kita sebagai Perwira.

DOWNLOAD