INOVASI | PESUT ETAM: Terobosan Baru yang Mengoptimalkan Kinerja Lapangan Mature di WK Sanga Sanga

  February 25, 2026
INOVASI | PESUT ETAM: Terobosan Baru yang Mengoptimalkan Kinerja Lapangan Mature di WK Sanga Sanga

  February 25, 2026

Di tengah tantangan stabilitas produksi sumur-sumur mature yang bergantung pada sistem gas lift, Perwira Zona 9 mengembangkan PESUT ETAM. Sebuah solusi pompa yang dapat dipasang tanpa rig dan terbukti meningkatkan produksi sekaligus membuka peluang reaktivasi sumur idle. Inovasi ini menjadi bagian penting strategi peningkatan keandalan operasi di WK Sanga Sanga.


Wilayah Kerja (WK) Sanga Sanga telah beroperasi sejak 1968. Seiring usia lapangan, banyak sumur masuk kategori mature atau tua, terutama yang menggunakan desain pipa tunggal (monobore) dan ganda (dual monobore). Di desain ini, tidak ada ruang tambahan untuk mengalirkan gas bantu sehingga sumur sepenuhnya bergantung pada gas lift jenis Coiled Tubing Gas Lift (CTGL), metode dorongan gas yang membantu minyak naik ke permukaan.

Ketergantungan terhadap satu jalur injeksi membuat performa produksi sangat sensitif terhadap fluktuasi pasokan gas dan kehilangan tekanan pada jaringan injeksi. Pada lapangan dengan kepadatan sumur tinggi, kondisi tersebut sering menyebabkan produksi minyak tidak stabil. Tantangan inilah yang mendorong perlunya pendekatan baru untuk menjaga kinerja sumur-sumur mature, baik dari sisi teknis maupun keekonomian.

Pada 2023, sekelompok Perwira Zona 9 yang dipimpin oleh Ibrahim Kunto Baskoro (Engineer Petroleum Area 1) mulai mengembangkan solusi alternatif yang tidak bergantung pada gas lift. Tim yang terdiri dari Radhintya Danas Okvendrajaya (Sr Engineer Petroleum Area 2), Mirza Azhari (Sr Engineer Petroleum Area 2), Sebastianus Riskadarto (Analyst Production Performance), R. Aburizal Valdi Susmanior (Engineer Petroleum Area 1), Eko Agus Nursandra (Supervisor Well Operations), Alfatah Fitriansyah (Company Man Well Intervention Operation), dan Michael Khouw (Engineer Petroleum Area 1), dengan dukungan fasilitator Supriady (Manager Subsurface Area 1) dan Djoko Soeseno (Manager Production & Operation), melakukan serangkaian studi teknis dan simulasi untuk merespons persoalan tersebut.

Hasil kajian tersebut melahirkan Pompa Through Tubing Electric Submersible Pump (TTESP) Mutiara Pertamina — PESUT ETAM, yang menggunakan pompa listrik berdiameter kecil. Teknologi ini memungkinkan pompa diturunkan melalui pipa produksi eksisting tanpa perlu pekerjaan rig. Pendekatan rigless ini membuat instalasi cepat dilakukan, biaya lebih efisien, dan risiko operasi lebih rendah dibanding metode konvensional.

Menurut Kunto, inovasi ini terdiri dari empat elemen yang saling terkait:

ØPemilihan sumur monobore atau dual monobore yang memenuhi kriteria teknis.

ØPenggunaan pompa listrik (ESP) sebagai pengganti tekanan dorong gas.

ØPenempatan pompa di dalam tubing dengan dukungan Retrievable Bridge Plug untuk mengoptimalkan aliran.

ØPemasangan rigless, sehingga tidak memerlukan mobilisasi rig kerja.

Penerapan pertama dilakukan pada Sumur Mutiara-161. Hasilnya signifikan: produksi meningkat dari sekitar 60 BOPD menjadi 150 BOPD, dengan profil alir yang lebih stabil dibanding penggunaan gas lift. Dari sisi keekonomian, peningkatan produksi serta efisiensi operasi memberikan potensi tambahan pendapatan hingga USD 32 juta. Seluruh proses instalasi TTESP hanya memerlukan waktu satu hari kerja, menjadikannya pendekatan yang sangat adaptif untuk lapangan mature.

PESUT ETAM 2.0: Memperluas fungsi hingga reaktivasi sumur idle

Setelah kesuksesan PESUT ETAM, Kunto bersama tim menyadari bahwa potensi teknologi ini masih bisa dikembangkan lebih jauh. Kunto mengungkapkan bahwa saat ini Kementerian ESDM dan SKK Migas mendorong percepatan reaktivasi sumur idle sebagai bagian dari upaya peningkatan produksi nasional kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Ia dan tim menilai bahwa PESUT ETAM berpotensi menjadi salah satu solusi efektif untuk menindaklanjuti mandat tersebut.

“Mendengar hal tersebut kami langsung tancap gas dengan melakukan kajian lebih lanjut terhadap hal-hal yang sudah ada pada PESUT ETAM versi awal. Kali ini kami mencoba mengembangkan dan menyempurnakan proses seleksi kandidat sumur yang lebih matang, prioritisasi target idle well, dan menaikkan batas maksimum Gas Oil Ratio (GOR),” tambah Kunto.

Pengembangan versi kedua ini difasilitasi oleh Magfirah Rajab (Manager Subsurface Development Area 1), dengan Ibrahim Kunto Baskoro kembali sebagai ketua tim, didukung M. Akbar (Analyst Production Operation Planning) sebagai sekretaris serta Alfatah Fitriansyah dan Eko Agus Nursandra sebagai anggota tim teknis.

Salah satu sumur yang dijadikan sebagai subjek untuk dilakukan uji coba adalah sumur Mutiara-915, yang telah idle sejak tahun 2020. Setelah diaplikasikan PESUT ETAM 2.0, sumur tersebut kembali berproduksi stabil sebesar 70 BOPD tanpa adanya downtime selama periode monitoring.

Di tengah tantangan lapangan mature, keterbatasan infrastruktur sumur monobore, serta kebutuhan menjaga stabilitas produksi, PESUT ETAM hadir sebagai inovasi yang relevan, terukur, dan aplikatif. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan produksi dari sumur aktif, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan kembali aset lama melalui reaktivasi sumur idle.

AWARDS

  • 2023 Paper Simposium IATMI
  • 2023 Paper Joint Convention Pangkalpinang
  • 2023 UIIA PHE, Platinum Award
  • 2024 APQA Pertamina, Platinum Award
  • 2024 Nominee Forum PEEN ESDM

    (Penghargaan Efisiensi Energi Nasional)

  • 2024 Technology Day SKK Migas
  • 2025 The Most Inspiring Team PHI

MAIN FEATURES

DOWNLOAD