INSPIRASI | Kisah Pengabdian Perwira di Balik Keberlanjutan Energi
February 25, 2026
INSPIRASI | Kisah Pengabdian Perwira di Balik Keberlanjutan Energi
February 25, 2026
Energi yang mengalir dari Kalimantan tidak hanya dijaga oleh mesin, tetapi oleh karakter, ketangguhan, dan integritas Perwira di baliknya. Dari menjaga kepercayaan publik di Tanjung bersama Akhmad Ruspandi, memastikan produksi tetap menyala di Lawe-Lawe bersama Wakhid Yani Khoirudin, hingga mengawal keandalan fasilitas Blok Mahakam bersama Rifqi Arifin. Kisah mereka membuktikan bahwa keberlanjutan operasi dimulai dari keteguhan individu di garis depan.
Bekerja di industri migas berarti siap menghadapi kompleksitas, risiko tinggi dan tanggung jawab besar terhadap keselamatan serta keberlanjutan operasi. Bagi Rifqi Arifin, perjalanan panjangnya di Dunia inspeksi dan pengawasan peralatan produksi bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan profesional untuk memastikan setiap fasilitas tetap andal dan aman untuk dioperasikan.
Saat ini, Rifqi menjabat sebagai Sr. Supervisor Inspection di Lapangan Handil – Central Processing Area (CPA) PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Ia memimpin fungsi yang memiliki peran penting dalam menjaga integritas fasilitas produksi, jalur pipa, serta peralatan angkat di seluruh wilayah operasi. “Tujuan utama kami adalah memastikan seluruh fasilitas beroperasi secara aman dan memenuhi standar industri serta regulasi pemerintah,” ujarnya.
Untuk mencapai misi tersebut, Rifqi bersama timnya menjalankan tiga fungsi utama: Pipeline Inspection & Maintenance, Corrosion Monitoring & Control, serta Lifting & Crane Inspection. Mereka mengawasi 373 jalur pipa penyalur dengan total panjang lebih dari 1.700 kilometer, melaksanakan In-Line Inspection (ILI) di berbagai lokasi, serta memastikan kualitas audit alat angkat dan crane. Semua itu dilakukan agar setiap fasilitas tetap fit for purpose dan mendukung keandalan operasi.
Hari-hari Rifqi dimulai sejak pagi buta. Pukul enam, ia sudah memimpin briefing di kantor INS/SUP HCA, mengulas hasil pekerjaan sekaligus menyusun rencana hari itu. Koordinasi lintas fungsi menjadi kunci, mengingat area kerja tim inspeksi mencakup tujuh site—dari North Processing Unit (NPU) di utara hingga South Mahakam (SMK) di selatan. Ia juga rutin turun ke lapangan, terutama saat pekerjaan kritikal seperti In-Line Inspection atau Cathodic Protection refurbishment berlangsung.
“Cakupan area kerja yang luas menuntut koordinasi kuat antar-entitas, terutama soal transportasi dan logistik,” jelasnya. Tantangan lain datang dari karakter lapangan yang sudah mature. Banyak fasilitas telah melewati masa desain awalnya, tetapi berkat inspeksi dan perawatan rutin, semua masih berfungsi optimal.
Rifqi bergabung di Blok Mahakam pada 27 Februari 1992 sebagai Laboratory Technician. Sejak itu, ia menapaki karier di bidang Corrosion Monitoring, Pipeline Inspection, hingga dipercaya sebagai Senior Supervisor Inspection HDL. Tiga dekade perjalanan membuatnya menyaksikan berbagai perubahan besar, dari meningkatnya standar keselamatan hingga keterbukaan komunikasi antara manajemen dan pekerja.
Yang paling membanggakan baginya adalah keberhasilan operasional Blok Mahakam yang kini sepenuhnya dikelola putra-putri bangsa. “Peraturan kini jauh lebih ketat dan konsisten, tapi itu justru membuat kita makin profesional,” tuturnya.
Bagi Rifqi, setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh. Ia mengenang momen saat meraih nilai terbaik dalam Coating & Painting Training tahun 2004 dan sertifikasi Pipeline Inspector Bimtek Migas pada 2019. Ia juga pernah terlibat dalam penyusunan PKB PHM serta dipercaya menjadi instruktur di Pipeline and Chemical Awareness Training di Balikpapan Training Center PHM.
“Berbagi ilmu adalah cara saya berterima kasih pada perusahaan dan profesi ini,” ujarnya. Ia menutup dengan pesan untuk generasi muda: “Jangan takut berubah. Tetap proaktif, terus belajar, dan jagalah rasa ingin tahu. Stay hungry, stay foolish.”
Menjaga kepercayaan publik dalam seperempat abad pengabdian di Tanjung
Selama lebih dari seperempat abad, sosok Akhmad Ruspandi, menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field. Mengawali kariernya pada Juli 1998 sebagai penerjemah di JOB Pertamina Talisman Tanjung (Ltd), ia terus mengabdi sebagai Government Relation Staf di Fungsi L & R di bawah naungan Pertamina EP Tanjung Field. Sejak restrukturisasi organisasi tahun 2021 hingga kini, ia bertugas di Fungsi HSSE sebagai Health Officer. Selain pekerjaan utamanya, semangatnya untuk tetap menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan pihak eksternal Perusahaan tidak pernah pudar. Di sela tugasnya, ia tetap aktif menjaga komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, media, serta para pemangku kepentingan lainnya, sebagaimana peran yang telah menjadi bagian dari dirinya selama lebih dari 20 tahun.
“Bagi saya, menjalin hubungan baik itu tidak harus selalu dekat, tapi harus tetap hangat, kooperatif, dan responsif,” ujarnya. Prinsip itu menjadi pegangan dalam menjaga citra baik perusahaan di mata pemerintah dan masyarakat. Di tengah situasi politik yang dinamis, ia meyakini keseimbangan antara empati dan profesionalitas menjadi kunci utama membangun kepercayaan publik. “Kita harus bersikap friendly, rendah hati, tapi tetap tegas sesuai aturan,” tambahnya.
Beragam transformasi telah ia lalui, mulai dari Unit Bisnis PEP Tanjung Field, beralih menjadi PEP Asset 5 Tanjung Field, hingga kini menjadi bagian dari PHI-Regional 3 Kalimantan Zona 9. Ia juga merasakan pergeseran generasi di jajaran manajemen yang dulu didominasi sosok senior hingga kini diisi oleh pimpinan muda. “Ini perubahan yang positif, dengan usia yang relatif muda, masa kerja mereka masih panjang dan potensi untuk membawa perusahaan ke arah lebih baik juga semakin besar,” tuturnya dengan optimis.
Kini, setelah 26 tahun berkarya, Ruspandi tidak hanya meninggalkan rekam jejak profesional yang solid, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keteladanan bagi generasi muda industri migas. Baginya, bekerja bukan semata menjalankan tugas atau mencari penghidupan, melainkan bentuk tanggung jawab, integritas, dan dedikasi yang harus dipegang dengan penuh komitmen. “Bekerjalah dengan integritas dan berkontribusilah secara nyata bagi perusahaan. Jagalah nama baik perusahaan dan Jagalah rahasia perusahaan sebagaimana kita menjaga rahasia keluarga kita sendiri,” pesannya.
Menatap masa depan industri migas yang penuh tantangan, ia mengajak Perwira muda untuk tetap optimis. “Kita selalu berharap akan ditemukan sumber migas baru. Karena itu, generasi muda perlu menyiapkan diri, bukan hanya dengan keahlian teknis, tapi juga kemampuan berkomunikasi dan keahlian lintas bidang agar bisa berkiprah lebih luas,” ujarnya menutup percakapan.
Perjalanan panjang Akhmad Ruspandi adalah kisah tentang loyalitas, refleksi tentang dedikasi, sikap rendah hati,
dan keberlanjutan nilai. Ia membuktikan bahwa pengalaman panjang bukan sekadar angka, melainkan warisan nilai yang terus menginspirasi generasi berikutnya.
Keteguhan menjaga produksi dari Lawe-Lawe
Tidak semua orang mampu bertahan di laut. Di tengah deru ombak, angin asin, dan suara mesin yang tak pernah benar-benar berhenti, hanya mereka yang punya hati besar yang bisa menyebut platform migas sebagai rumah kedua. Salah satunya adalah Wakhid Yani Khoirudin, sosok tenang yang kini menjabat sebagai Superintendent Production Lawe-Lawe, Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) DOBS. Baginya, laut bukan sekadar tempat bekerja, tetapi ruang untuk belajar arti tanggung jawab, solidaritas, dan keteguhan hati. Sudah lebih dari dua dekade ia menjalani pola hidup khas pekerja migas: 14 hari di laut, 14 hari di darat.
“Kadang orang lihat kita lama di rumah, dikira udah kena PHK,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Padahal ya beginilah ritmenya hidup di offshore.” Ketika sebagian besar orang pulang kerja lalu bersantai bersama keluarga, Wakhid justru berada ratusan kilometer dari daratan. Namun ia tidak pernah merasa sendiri. Di tengah laut, ia menemukan keluarga lain rekan-rekan satu anjungan yang bersama-sama menjaga produksi, mengatasi masalah teknis, hingga berbagi cerita sederhana.
“Rasa kekeluargaan di sini kuat sekali. Kita lebih sering kumpul di tempat kerja daripada di rumah. Hiburan kami ya main pingpong atau karaoke bareng. Saya suka main pingpong, tapi kalau nyanyi, ya, fals banget,” canda Wakhid. Ia tidak pernah menganggap pekerjaannya hanya rutinitas teknis, melainkan amanah besar untuk menjaga pasokan energi nasional tetap terjaga.
Wakhid menapaki perjalanan karier yang panjang hingga akhirnya memperoleh kepercayaan untuk memimpin tim operasi. Pada masa alih kelola lapangan tahun 2018, dua pejabat senior yang menjadi atasannya memasuki masa purnatugas secara bersamaan, sehingga ia diminta untuk mengemban peran kepemimpinan sementara. “Saat itu saya masih menjabat sebagai Team Leader Operation. Namun dengan pensiunnya dua atasan saya, saya dipercaya untuk mengambil alih tanggung jawab tersebut,” kenangnya.
Kepercayaan itu ia jawab dengan kesungguhan. Ia masih mengingat pesan dari pemimpin sebelumnya, “Jangan menolak tanggung jawab hanya karena belum siap. Tidak semua orang mendapat kesempatan itu. Kadang kamu dipilih bukan karena sudah mampu, tapi karena dipercaya untuk belajar menjadi mampu,” sambungnya. Kalimat itu tertanam kuat dan menjadi pedoman hingga kini.
Kini, sebagai Superintendent Production, peran Wakhid kian luas. Ia tak hanya mengurus teknis produksi, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat sekitar, memahami dinamika sosial, dan ikut menjaga sinergi antar fungsi. “Kalau dulu lebih banyak ke internal tim, sekarang saya juga belajar dari masyarakat sekitar, seperti ikut forum komunikasi, membahas hal-hal tentang tenaga kerja, lingkungan, dan hubungan sosial,” jelasnya.
Baginya, setiap fase karier adalah kesempatan untuk tumbuh. Ia percaya bahwa pemimpin sejati bukan yang paling tahu segalanya, tetapi yang mau belajar dari siapa pun, termasuk dari operator paling muda atau baru di lapangan.
Ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan sekian lama di lapangan, jawabannya sederhana: rasa memiliki. “Yang bikin bertahan itu bukan cuma gaji atau posisi, tapi sebuah amanah yang sudah dipercayakan. Kalau sudah cinta sama lapangan, tiap hari berat pun rasanya ringan,” ujar Wakhid. Ia pun berpesan kepada generasi muda Perwira PHI-Regional 3 Kalimantan untuk berani memulai dari bawah dan keluar dari zona nyaman. Dunia migas, katanya, bukan hanya soal mesin dan produksi tapi tentang semangat menjaga energi kehidupan bagi jutaan orang.
“Energi itu bukan hanya minyak dan gas tapi semangat yang tidak padam, bahkan ketika tak ada yang melihat,” ucapnya menutup percakapan.
Dari tengah laut, mereka menjaga cahaya negeri. Dari tangan Perwira lapangan, energi kita terus hidup.