UNJUK GIGI | Perwira dan Cerita Hobi yang Menjaga Hari Tetap Seimbang
February 25, 2026
UNJUK GIGI | Perwira dan Cerita Hobi yang Menjaga Hari Tetap Seimbang
February 25, 2026
Di balik kesibukannya menjalankan peran sebagai Junior HC Officer di Fungsi Human Capital PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Tatik Djumiarti menemukan ruang yang selalu membangkitkan semangatnya, yaitu dapur. Dari aktivitas sederhana itu, lahir inspirasi besar tentang bagaimana sebuah hobi bisa menjadi cara mencintai bumi.
Berawal dari kebiasaan membantu orang tua memasak di masa kecil, Tatik perlahan menumbuhkan kecintaan terhadap dunia kuliner. Baginya, memasak bukan sekadar rutinitas rumah tangga, melainkan proses kreatif yang memadukan rasa, warna, dan makna. “Saya merasa tenang saat memasak. Dari mengolah bahan hingga menyajikan, semua jadi momen refleksi,” ujarnya.
Namun, yang membuat hobinya berbeda adalah kesadarannya terhadap dampak setiap pilihan di dapur. Tatik berkomitmen menggunakan bahan-bahan organik dan lokal, sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan. Ia rajin berbelanja langsung ke petani di sekitar Balikpapan, memastikan hasil bumi yang dibeli segar, alami, dan sekaligus
mendukung ekonomi lokal. “Saya percaya bahan lokal itu punya cita rasa unik dan cerita di baliknya. Saat kita memilihnya, kita juga membantu petani untuk terus berkarya,” tutur Tatik.
Langkah kecil itu kemudian berkembang menjadi gaya hidup berkelanjutan. Ia mulai mengganti kemasan plastik sekali pakai dengan paper lunch box, daun pisang, atau wadah kaca yang bisa digunakan kembali. Kepedulian ini berawal dari keresahan pribadi melihat banyaknya sampah kemasan makanan yang berakhir di tempat pembuangan. Dengan semangat 3R (Reduce, Reuse, Recycle), Tatik bahkan pernah membuat kampanye kecil di lingkungannya, yakni memberikan potongan harga bagi pelanggan yang mengembalikan wadah bekas.
Konsistensi Tatik membuat rekan kerjanya terinspirasi. Tak jarang, ia membawa hasil masakannya ke kantor untuk dibagikan, sembari bercerita tentang pentingnya memilih bahan lokal dan mengurangi limbah dapur. Dari situ, percakapan kecil di sela jam makan siang berubah menjadi ruang edukasi yang hangat.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah pertemuannya dengan seorang pensiunan Perwira PHM yang kini menekuni usaha berkebun di Lamaru. Dari pertemuan sederhana itu, terjalin kolaborasi berkelanjutan: hasil kebun sang pensiunan kini menjadi pasokan rutin untuk usaha kuliner Tatik. Kisah itu mengingatkannya bahwa nilai keberlanjutan bisa tumbuh dari hubungan yang tulus antarindividu, bukan sekadar konsep besar di atas kertas.
Bagi Tatik, dapur adalah tempat belajar tentang keseimbangan. Dari sana, ia belajar disiplin, kreatif, dan peka terhadap perubahan. Semua nilai itu terbawa ke dunia kerja; bagaimana ia berkomunikasi dengan empati, menyesuaikan diri dengan tantangan, dan melihat setiap proses sebagai peluang untuk tumbuh. “Masakan yang enak itu bukan hanya soal resep, tapi niat dan ketulusan. Begitu juga pekerjaan,” ujarnya.
“Saya tidak menggurui, hanya berbagi pengalaman. Kadang dari satu menu, muncul banyak ide untuk hidup lebih hijau.”
Kini, Tatik berencana mengembangkan hobinya menjadi wadah berbagi yang lebih luas. Ia ingin mengadakan lokakarya memasak sehat dengan bahan lokal dan kemasan ramah lingkungan, sekaligus mengajak
komunitas atau masyarakat di sekitarnya untuk menerapkan gaya hidup hijau. Baginya, keberlanjutan bukan sekadar slogan, tetapi kebiasaan yang bisa dimulai dari dapur kecil siapa pun.
Menutup ceritanya, Tatik menyampaikan pesan sederhana namun kuat, “Menjaga bumi bisa dimulai dari hal sesederhana
memilih bahan makanan dan kemasan yang bijak. Dari dapur kecil kita, bisa lahir perubahan besar untuk masa depan yang lebih hijau,” tutupnya.
Di balik kesibukannya mengawal kesiapsiagaan darurat di lapangan migas, Mulyono Hadi, Officer Emergency Response PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field di Zona 9, memiliki hobi yang tak kalah menarik yaitu berkomunikasi melalui alat radio genggam dengan komunitas pencinta radio di Indonesia atau yang kerap disebut amatir radio. Di situ ia menemukan ruang berbeda untuk tetap “terhubung” dengan dunia melalui gelombang frekuensi.
Sebagai bagian dari fungsi HSSE, Mulyono bertugas memastikan seluruh sistem tanggap darurat berjalan efektif, mulai dari pengecekan armada pemadam, ambulans, hingga koordinasi drill di fasilitas produksi. Tanggung jawab besar ini menuntut ketelitian, kedisiplinan dan kolaborasi tinggi antar fungsi. Namun, siapa sangka, nilai-nilai itu juga ia dapatkan dari hobinya di dunia komunikasi radio.
Mulyono merupakan anggota sekaligus Sekretaris Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Kabupaten Tabalong, komunitas resmi yang menaungi pecinta komunikasi radio di seluruh Indonesia. Bagi Mulyono, ORARI bukan sekadar wadah menyalurkan hobi, melainkan ruang kontribusi sosial yang nyata. “Pada dasarnya, ORARI berfokus pada komunikasi darurat. Karena itu, ketika terjadi kebakaran, banjir, atau bencana alam di sekitar wilayah operasi, kami berperan memastikan kelancaran arus informasi,” ujarnya.
Sebagai organisasi yang diakui pemerintah, ORARI berperan penting dalam mendukung komunikasi nasional, terutama saat jaringan telepon lumpuh. Anggotanya dibekali izin resmi dan keahlian teknis untuk beroperasi di berbagai frekuensi, dari komunikasi jarak dengan menggunakan radio genggam (VHF/UHF), hingga jarak jauh lintas negara (HF). “Melalui ORARI, saya bisa berinteraksi dengan amatir radio di seluruh dunia, sekaligus belajar banyak tentang teknologi komunikasi dan disiplin siaran,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Mulyono juga menularkan hobinya ke rekan kerja. Di Fire Station PEP Tanjung, radio komunikasi luar kini menjadi bagian dari sistem siaga. Ia juga membantu melatih dan mendorong Unit Penanggulangan Bencana Swadaya (UPBS) binaan PEP Tanjung untuk mengikuti ujian lisensi ORARI. “Kami ingin agar komunikasi darurat di tingkat lokal semakin tangguh dan professional,” tambahnya.
Menurutnya, hobi radio amatir sangat relevan dengan dunia kerja. “Kreativitas, disiplin dan kolaborasi itu menjadi kunci, baik di lapangan migas maupun di udara,” ujarnya. Ia percaya bahwa setiap hobi memiliki potensi keberlanjutan jika dijalani dengan niat baik. “Jangan pernah meremehkan hobi. Dari sesuatu yang sederhana, bisa tumbuh menjadi manfaat besar bagi diri sendiri, lingkungan kerja, bahkan masyarakat,” pungkasnya.
Dengan suara yang melintasi frekuensi, Mulyono Hadi bukan hanya menjaga komunikasi darurat tetapi juga menebar semangat bahwa kontribusi bisa datang dari mana saja, bahkan dari hobi yang menghubungkan manusia tanpa batas.
Kisah Rosyid: Mendengar Harmoni, Menjaga Keseimbangan
Setiap pagi, sebelum rutinitas kantor dimulai, Rosyid Alfahmi,
seorang PC Support dari Fungsi Information & Technology Zona 10 memulai harinya dengan cara yang selalu membuatnya tenang: membuka kerodong sangkar dan menyambut kicau burung-burung peliharaannya. “Burung itu tahu kapan pagi dimulai. Kalau embunnya pas dan anginnya tenang, mereka langsung rajin bunyi,” ujarnya tersenyum.
Hobi ini sudah ia tekuni sejak lama, bermula dari rasa suka yang sederhana. “Kalau cuma suka ya cukup lihat. Tapi kalau sudah hobi, itu dirawat,” katanya. Dari sekadar menikmati suara kicau, perhatiannya berkembang menjadi perawatan rutin. Kini, koleksinya meliputi murai batu, kacer, lovebird, pleci, hingga kolibri pemakan nektar. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan dan ritme perawatan yang berbeda, dan Rosyid menjalankannya dengan sabar, seolah menjadi ritual kecil yang menjaga keseimbangan dirinya sebelum menghadapi aktivitas kerja.
Seiring waktu, hobi ini menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Anaknya hafal burung mana yang paling gacor, sementara istrinya rutin membantu mengingatkan jadwal makan. Momen-momen sederhana itu membuat kegiatan memelihara burung tak lagi sekadar hobi personal, melainkan aktivitas keluarga yang mempererat kebersamaan di rumah.
Di antara koleksinya, lovebird menjadi yang paling ia tekuni. Dari penangkaran kecil yang ia buat, Rosyid telah menetaskan puluhan ekor. Ia tidak mengejar panggung perlombaan; mendengar kicau pertama burung yang baru tumbuh sudah cukup menjadi kebanggaan. “Prestasi saya bukan piala. Prestasi saya ketika yang saya rawat bisa tumbuh, hidup, dan bunyi,” tuturnya.
Bagi Rosyid, merawat burung adalah cara sederhana untuk belajar tentang proses. Dalam pekerjaan IT yang serba cepat, penuh troubleshooting, dan menuntut ketelitian, ia justru menemukan pengingat penting dari hobinya: bahwa tidak semua hal harus instan. “Burung tidak bisa dipaksa. Kita harus tahu kapan memberi ruang. Sama seperti pekerjaan, semua ada ritmenya,” jelasnya. Nilai kesabaran dan konsistensi itu menjadi bekal berharga yang ia bawa saat mendukung operasional Zona 10.
Prinsip itu sejalan dengan tugasnya di industri migas. Sama seperti merawat burung, pekerjaan IT menuntut ketelitian, tanggung jawab, dan kontrol yang konsisten agar sistem tetap andal mendukung operasi. “Apa yang saya lakukan di rumah itu tidak jauh dari pekerjaan. Sama-sama menjaga, merawat, dan memastikan semuanya berjalan aman,” ujarnya.
Dengan ritme kerja yang padat, suara burung di pagi hari menjadi ruang sunyi yang menjaga energinya. Ketenangan itu membuat fokusnya lebih baik dan mood lebih stabil ketika menghadapi permintaan-permintaan teknis di kantor. “Kalau pagi sudah dengar burung bunyi, mood biasanya lebih stabil,” tambahnya.
Menutup ceritanya, Rosyid menyampaikan refleksi yang menenangkan: “Apa pun hobinya, kalau dijalani dengan sabar dan tulus pasti memberi dampak positif. Dari suara kecil seekor burung, saya belajar bahwa proses itu penting. Yang tumbuh dengan sabar biasanya bertahan lama.”